Jumat, 22 Januari 2010

Malaikat Kecil itu Bernama "Sinar"


Sinar namanya. Bocah berumur enam tahun yang tinggal di Polewali Mandar Sulawesi Barat itu, juga menjadi sinar bagi sang bunda. Membantu memindahkan ibunya yang lumpuh menjadi keseharian Sinar. Penuh kasih sayang Sinar mengurus ibunya. Rumah panggung yang sangat sederhana dan terletak agak jauh rumah-rumah warga lainnya itu, menjadi saksi bercahayanya kasih seorang Sinar.

Sudah dua tahun ibunya, Murni, lumpuh karena terjatuh. Sejak itu ia harus merawat ibunya, mulai menyiapkan makan, minum, mandi, hingga buang air.

Pagi hari, Sinar harus bangun untuk masak air dan menanak nasi. Tangan kecilnya harus bersusah payah mengangkat ember berisi air. Mulut kecilnya pun harus berpanas-panas meniup tungku agar nasi cepat tanak. Saat menunggu nasi matang, Sinar harus turun mengambil air untuk membersihkan ibunya. Terkadang dengan susah payah ia harus memindahkan ibunya.

Setelah nasi tanak, Sinar menghidangkannya ke hadapan ibunya. Hanya nasi, dengan segelas air. Tanpa lauk pauk. Setelah selesai semuanya, barulah Sinar berangkat ke sekolah. Tak heran, bocah kelas satu sekolah dasar ini kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Sepulang sekolah, ia harus mencari kayu bakar untuk menyalakan tungku esok hari.

Sinar adalah bungsu dari enam bersaudara. Lima kakaknya yang juga belum dewasa tinggal terpisah. Mereka menjadi pembantu rumah tangga. Ini terpaksa dilakukan karena masalah ekonomi. Sementara sang ayah sudah sekian tahun merantau ke Malaysia. “Tidak pernah kirim surat,” kata Murni, baru-baru ini, mengenai suaminya yang merantau ke Malaysia. Hanya album foto-foto keluarga yang jadi pengobat rindu pada anak-anak dan sang suami.

Subhaanallah... Sinar adalah 'malaikat kecil' yang diutus Tuhan ke hadapan kita untuk kita jadikan cermin pengingat diri kita. Sebesar itukah cinta kita kepada ibu kita? Kalau kondisi ibu kita (mudah-mudahan Allah merahmati dan melindunginya) misalnya, seperti ibu Murni, akankah cinta dan perhatian kita sebesar cinta dan perhatian Sinar?

Di sisi lain, ketulusan Sinar berbakti kepada ibunya, menohok jantung kita, untuk melihat apakah bakti anak-anak kita kepada kita orang tuanya, setulus bakti Sinar kepada ibunya? Padahal kita telah mengeluarkan investasi berjuta-juta untuk mendidiknya?

Sahabat,

Di tengah gersangnya bakti kita kepada orang tua, yang ditunjukkan dengan makin kurang ajarnya perkataan, sikap dan perilaku kita kepada mereka... Sinar adalah cahaya penuntun kita untuk meraih surga kita. Surga yang ada di balik cinta dan bakti kita kepada Ibunda.

"Ya Allah, ampuni aku. Ampuni orang tuaku. Sayangi keduanya seperti mereka selalu menyayangiku..."

Hidup Adalah Anugerah, Maka Syukurilah !


Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

Kamis, 21 Januari 2010

DEMI WAKTU


Seorang, guru masuk ke dalam kelas dengan membawa beberapa alat peraga, diantaranya ember plastik, sekantung batu, kerikil, dan pasir serta sebotol air.
Setelah membuka pelajaran dengan berdoa bersama, pak guru berkata kepada anak-anak, “Selamat tahun baru, anak-anak! Sebagai pembuka pelajaran kita pada semester ini, bapak ingin kamu mengambil pelajaran dari apa yang akan Bapak peragakan berikut ini.”
Pak Guru kemudian meletakkan ember di atas meja. Ke dalam ember tersebut dimasukkannya sekantung batu sebesar ukuran kepalan tangan, yang memenuhi ember tersebut. “Apakah ember ini sudah penuh, anak-anak?” Tanya guru tersebut kepada para murid-muridNya.
Serentak semua murid menjawab, “Sudaaah!”
“Benarkah sudah penuh? Coba perhatikan!” Guru tersebut kemudian memasukan kerikil ke dalam ember berisi batu tersebut. Digoyang-goyangnya ember tersebut, membuat satu demi satu kerikil masuk menempati celah kosong antara baru-batu yang ada di ember. Lalu kepada muridnya ia bertanya lagi, “Apakah kali ini ember ini sudah penuh?”
“Sepertinya, belum!” Jawab sebagian muridnya agak sedikit ragu. Benar saja, Pak Guru kemudian memasukkan sekantung pasir ke dalam ember tersebut. Ember itu lalu diguncang-guncang, sehingga pasir masuk ke celah-celah kerikil dan batu yang ada di ember tersebut. “Apakah ember ini sudah penuh?” tanyanya kepada siswa yang makin penasaran.
“Beluuuum!” teriak hampir semua murid. Pak Guru kemudian mengambil sebotol air dan menuangkannya ke dalam ember yang sudah berisi batu, kerikil dan pasir “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?” Karena yakin tidak ada lagi benda yang akan dimasukkan ke dalam ember, maka semua murid menjawab dengan penuh tegas, “Sudaaaah!”
Pak Guru tersenyum. lalu kembali bertanya, “Siapa yang bisa menjelaskan, hikmah di balik peragaan yang baru saja Bapak lakukan!”
Seperti biasa anak-anak berlomba mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun seperti biasa pula, pendapat mereka kurang memuaskan. Setelah menyimak pendapat masing-masing murid, maka dengan wajah sedikit serius, Pak Guru berkata, “Ingatkah kamu, benda apa yang bapak masukkan pertama kali ke dalam ember?”
Murid yang duduk paling depan spontan menjawab , “Batu!”
“Betul. Batu! Baru setelah itu menyusul kerikil, pasir dan air. Ehmm... bagaimana menurut pendapatmu, apabila yang Bapak masukkan terlebih dulu adalah kerikil, pasir dan air, baru kemudian batu?”
“Pastinya tidak semua batu bakal masuk ke ember, Pak!” Kali ini murid paling belakang yang menjawab.
“Tepat! Jika kerikil, pasir dan air yang Bapak masukan terlebih dahulu, maka pasti ada batu yang tertinggal di luar ember. Pelajaran yang bisa kamu petik dari “permainan” kita pagi ini adalah...” Kali ini Pak Guru benar-benar serius. “Ember adalah lambang umur kita yang terbatas. Siapapun kita, hidup di dunia hanya dalam Pak Guru tersenyum. lalu kembali bertanya, “Siapa yang bisa menjelaskan, hikmah di balik peragaan yang baru saja Bapak lakukan!”
Seperti biasa anak-anak berlomba mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun seperti biasa pula, pendapat mereka kurang memuaskan. Setelah menyimak pendapat masing-masing murid, maka dengan wajah sedikit serius, Pak Guru berkata, “Ingatkah kamu, benda apa yang bapak masukkan pertama kali ke dalam ember?”
Murid yang duduk paling depan spontan menjawab , “Batu!”
“Betul. Batu! Baru setelah itu menyusul kerikil, pasir dan air. Ehmm... bagaimana menurut pendapatmu, apabila yang Bapak masukkan terlebih dulu adalah kerikil, pasir dan air, baru kemudian batu?”
“Pastinya tidak semua batu bakal masuk ke ember, Pak!” Kali ini murid paling belakang yang menjawab.
“Tepat! Jika kerikil, pasir dan air yang Bapak masukan terlebih dahulu, maka pasti ada batu yang tertinggal di luar ember. Pelajaran yang bisa kamu petik dari “permainan” kita pagi ini adalah...” Kali ini Pak Guru benar-benar serius. “Ember adalah lambang umur kita yang terbatas. Siapapun kita, hidup di dunia hanya dalamPak Guru tersenyum. lalu kembali bertanya, “Siapa yang bisa menjelaskan, hikmah di balik peragaan yang baru saja Bapak lakukan!”
Seperti biasa anak-anak berlomba mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun seperti biasa pula, pendapat mereka kurang memuaskan. Setelah menyimak pendapat masing-masing murid, maka dengan wajah sedikit serius, Pak Guru berkata, “Ingatkah kamu, benda apa yang bapak masukkan pertama kali ke dalam ember?”
Murid yang duduk paling depan spontan menjawab , “Batu!”
“Betul. Batu! Baru setelah itu menyusul kerikil, pasir dan air. Ehmm... bagaimana menurut pendapatmu, apabila yang Bapak masukkan terlebih dulu adalah kerikil, pasir dan air, baru kemudian batu?”
“Pastinya tidak semua batu bakal masuk ke ember, Pak!” Kali ini murid paling belakang yang menjawab.
“Tepat! Jika kerikil, pasir dan air yang Bapak masukan terlebih dahulu, maka pasti ada batu yang tertinggal di luar ember. Pelajaran yang bisa kamu petik dari “permainan” kita pagi ini adalah...” Kali ini Pak Guru benar-benar serius. “Ember adalah lambang umur kita yang terbatas. Siapapun kita, hidup di dunia hanya dalam rentang waktu tertentu. Ada saatnya waktu kita habis. Dan kita kembali kepada Sang Pencipta. Karena “ember” waktu hidup kita terbatas, maka pintar-pintarlah memilih benda yang akan dimasukkan ke dalamnya. Batu, kerikil, pasir dan air adalah skala prioritas amal dalam hidup kita. Katakanlah, batu besar adalah simbol amal penting atau karya yang memberi nilai pada kehidupan kita. Sedangkan kerikil, pasir dan air secara berturut-turut kita anggap amal yang kurang penting, tidak penting dan amal yang sia-sia.”
“Saya paham, Pak!” kata salah seorang murid. “Kalau kita sibuk menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang atau tidak bermanfaat bagi hidup kita, maka kita akan kehabisan waktu dan kesempatan untuk melakukan amal-amal atau karya yang bermanfaat.”
“Benar, akibatnya banyak hal yang positif yang sebenarnya biasa kita lakukan untuk meningkatkan “nilai dan kualitas diri’ kita, malah terlewatkan. Biasanya kita baru sadar, betapa banyak waktu terbuang sia-sia, manakala badan kita sudah terbaring sakit-sakitan, lumpuh kena stroke, atau ketika malaikat Izrail datang akan mencabut nyawa kita. Di saat-saat itulah biasanya kita, dengan penuh penyesalan merintih ...ah andai saja dulu aku begini-begini ..! Na’udzubillah!”
“Makanya, sejak empat belas abad yang lalu, Allah Swt mengingatkan kita tentang ruginya orang yang menyia-nyiakan waktu. Yang beruntung dan sukses hanyalah mereka yang beriman, yang mengisi detik demi detik hidupnya dengan amal soleh, saling mengingatkan perihal kebenaran, dan saling mengingatkan dengan penuh kesabaran.
“Jadi, mulai sekarang pintar-pintarlah memilih apa yang akan kalian masukkan ke dalam “ember-waktu” hidup kalian. Supaya tidak salah memilih, Allah sudah membekali kita akal dan kalbu. Diberinya pula kita tuntunan wahyu. Kurang apa lagi, coba? Hanya orang jahil dan zalim saja yang sibuk memasukkan kerikil, pasir dan air, dan membiarkan batu-batu besarnya tergeletak di luar.” []

Senin, 11 Januari 2010

KISAH JEAN & LELAKI MALANG


Pernahkah Anda membayangkan menulis buku bukan dengan tangan, kaki atau anggota tubuh lainnya? Bayangkan kalau Anda menulis dengan kelopak mata kiri? Anda akan mengatakan itu hal yang mustahil untuk dilakukan, jika Anda belum mengenal orang yang bernama Jean- Dominique Bauby. Dia adalah seorang pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan Prancis yang digandrungi wanita seluruh dunia.

Betapa mengagumkan semangat hidup, tekad dan kemauannya untuk menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialami si Jean dalam menempuh hidup ini, Anda pasti akan berpikir, “Seberapa besar pun problem dan beban hidup yang saya alami, hampir tidak ada artinya dibandingkan apa yang dialami oleh si Jean!”

Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yang disebutnya “Seperti pikiran di dalam botol”. Memang ia masih dapat berpikir jernih, tetapi ia sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi dengan organ itulah dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya.

Dalam kondisi seperti itu pun semangatnya untuk menulis dan berkarya sungguh sangat luar biasa. Bagaimana ia melakukannya? Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat, teman- temannya) menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya.

Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh “menulis” dengan cara si Jean, barang kali kita harus menangis dulu berhari-hari dan bukan buku yang jadi, tapi mungkin meminta ampun untuk tidak disuruh melakukan apa yang dilakukan Jean dalam membuat bukunya.

Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya dengan cara yang sangat istimewa. Judulnya, “Le Scaphandre et le Papillon” (The Bubble and the Butterfly).

Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untuk bisa menjadi seseorang yang berguna, walaupun untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu, karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh. Tetapi yang patut kita teladani adalah bagaimana dia menyikapi situasi hidup yang dialaminya dengan baik dan tetap menjadi seorang manusia yang selalu berfikiran positif, optimis dan penuh rasa syukur.

Dari dunia dan masa yang lain juga dikisahkan suatu hari seorang sahabat Rasul Saw, Urwah bin Zubair pergi ke Syam untuk bertemu dengan khalifah. Di suatu tempat ia berjumpa dengan seorang yang buta, rusak wajahnya dan patah hidungnya. Melihat keadaan orang tersebut, Urwah bertanya sebab apa gerangan sehingga ia mengalami kemalangan seperti itu.

Lelaki malang itu berkata, “Dahulu aku adalah orang yang paling kaya di desaku. Tiada lagi yang lebih kaya dalam hal harta, anak dan kekayaan dibanding aku. Sampai suatu hari, datanglah banjir besar menyapu habis semua milikku. Yang tersisa hanya anakku yang masih balita dan seekor unta. Aku pun berjalan membawa dua harta tersisa untuk mencari tempat berteduh. Di tengah jalan, untaku lari. Setelah meletakkan anakku di suatu tempat, aku mengejar untaku. Belum jauh aku berlalu, terdengar di belakangku anakku menjerit-jerit. Ternyata seekor srigala tengah mencabik-cabik anakku. Aku tak bisa lagi menyelamatkannya. Lalu dengan perasaan tak menentu kukejar kembali untaku. Ketika hampir saja ia kutangkap, tiba-tiba ia menyepakkan kakinya ke wajahku. Hidungku patah, wajah ku robek dan mataku terluka hebat.”

Urwah bertanya, “Bagaimana perasaanmu ketika mengalami semua rasa sakit itu!” Lelaki itu berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Ia memang sudah mengambil hampir semua harta dan milikku... Tapi ia masih menyisakan padaku bibir yang selalu berzikir dan hati yang dipenuhi kesabaran dan rasa syukur.”

Subhanallah! Menyimak dua kisah luar bisa di atas, pantaslah jika di awal tahun baru ini kita bertafakur, seberapa besar rasa syukur kita kepada Allah. Berbeda dengan yang dialami Jean atau lelaki malang di atas, masih banyak melekat nikmat titipan Tuhan pada diri kita. Terlepas ada rasa sakit, duka dan kemalangan yang kita alami di tahun lalu. Raga masih sempurna, keluarga masih utuh bersama kita, sahabat setia masih ada di tengah-tengah kita dan kenikmatan hidup lainnya masih dapat kita rasakan. Tetapi, apakah semua itu membuat lidah kita lebih basah dengan zikir ketimbang lidah lelaki malang tadi. Apakah hati kita lebih banyak rasa syukur dibanding lelaki malang itu. Apakah spirit hidup untuk berkarya dan memberi manfaat bagi sesama kita lebih hebat dari Jean yang lumpuh itu?

Sahabat mari kita semua bertafakur menghisab diri.
"Ya Allah bimbing kami semua untuk selalu mengingatmu. Tuntun kami untuk selalu mensyukuri nikmat-Mu dan arahkan kami untuk dapat menyempurnakan pengabdian kami kepada-Mu." Amin.