
Seorang, guru masuk ke dalam kelas dengan membawa beberapa alat peraga, diantaranya ember plastik, sekantung batu, kerikil, dan pasir serta sebotol air.
Setelah membuka pelajaran dengan berdoa bersama, pak guru berkata kepada anak-anak, “Selamat tahun baru, anak-anak! Sebagai pembuka pelajaran kita pada semester ini, bapak ingin kamu mengambil pelajaran dari apa yang akan Bapak peragakan berikut ini.”
Pak Guru kemudian meletakkan ember di atas meja. Ke dalam ember tersebut dimasukkannya sekantung batu sebesar ukuran kepalan tangan, yang memenuhi ember tersebut. “Apakah ember ini sudah penuh, anak-anak?” Tanya guru tersebut kepada para murid-muridNya.
Serentak semua murid menjawab, “Sudaaah!”
“Benarkah sudah penuh? Coba perhatikan!” Guru tersebut kemudian memasukan kerikil ke dalam ember berisi batu tersebut. Digoyang-goyangnya ember tersebut, membuat satu demi satu kerikil masuk menempati celah kosong antara baru-batu yang ada di ember. Lalu kepada muridnya ia bertanya lagi, “Apakah kali ini ember ini sudah penuh?”
“Sepertinya, belum!” Jawab sebagian muridnya agak sedikit ragu. Benar saja, Pak Guru kemudian memasukkan sekantung pasir ke dalam ember tersebut. Ember itu lalu diguncang-guncang, sehingga pasir masuk ke celah-celah kerikil dan batu yang ada di ember tersebut. “Apakah ember ini sudah penuh?” tanyanya kepada siswa yang makin penasaran.
“Beluuuum!” teriak hampir semua murid. Pak Guru kemudian mengambil sebotol air dan menuangkannya ke dalam ember yang sudah berisi batu, kerikil dan pasir “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?” Karena yakin tidak ada lagi benda yang akan dimasukkan ke dalam ember, maka semua murid menjawab dengan penuh tegas, “Sudaaaah!”
Pak Guru tersenyum. lalu kembali bertanya, “Siapa yang bisa menjelaskan, hikmah di balik peragaan yang baru saja Bapak lakukan!”
Seperti biasa anak-anak berlomba mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun seperti biasa pula, pendapat mereka kurang memuaskan. Setelah menyimak pendapat masing-masing murid, maka dengan wajah sedikit serius, Pak Guru berkata, “Ingatkah kamu, benda apa yang bapak masukkan pertama kali ke dalam ember?”
Murid yang duduk paling depan spontan menjawab , “Batu!”
“Betul. Batu! Baru setelah itu menyusul kerikil, pasir dan air. Ehmm... bagaimana menurut pendapatmu, apabila yang Bapak masukkan terlebih dulu adalah kerikil, pasir dan air, baru kemudian batu?”
“Pastinya tidak semua batu bakal masuk ke ember, Pak!” Kali ini murid paling belakang yang menjawab.
“Tepat! Jika kerikil, pasir dan air yang Bapak masukan terlebih dahulu, maka pasti ada batu yang tertinggal di luar ember. Pelajaran yang bisa kamu petik dari “permainan” kita pagi ini adalah...” Kali ini Pak Guru benar-benar serius. “Ember adalah lambang umur kita yang terbatas. Siapapun kita, hidup di dunia hanya dalam Pak Guru tersenyum. lalu kembali bertanya, “Siapa yang bisa menjelaskan, hikmah di balik peragaan yang baru saja Bapak lakukan!”
Seperti biasa anak-anak berlomba mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun seperti biasa pula, pendapat mereka kurang memuaskan. Setelah menyimak pendapat masing-masing murid, maka dengan wajah sedikit serius, Pak Guru berkata, “Ingatkah kamu, benda apa yang bapak masukkan pertama kali ke dalam ember?”
Murid yang duduk paling depan spontan menjawab , “Batu!”
“Betul. Batu! Baru setelah itu menyusul kerikil, pasir dan air. Ehmm... bagaimana menurut pendapatmu, apabila yang Bapak masukkan terlebih dulu adalah kerikil, pasir dan air, baru kemudian batu?”
“Pastinya tidak semua batu bakal masuk ke ember, Pak!” Kali ini murid paling belakang yang menjawab.
“Tepat! Jika kerikil, pasir dan air yang Bapak masukan terlebih dahulu, maka pasti ada batu yang tertinggal di luar ember. Pelajaran yang bisa kamu petik dari “permainan” kita pagi ini adalah...” Kali ini Pak Guru benar-benar serius. “Ember adalah lambang umur kita yang terbatas. Siapapun kita, hidup di dunia hanya dalamPak Guru tersenyum. lalu kembali bertanya, “Siapa yang bisa menjelaskan, hikmah di balik peragaan yang baru saja Bapak lakukan!”
Seperti biasa anak-anak berlomba mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun seperti biasa pula, pendapat mereka kurang memuaskan. Setelah menyimak pendapat masing-masing murid, maka dengan wajah sedikit serius, Pak Guru berkata, “Ingatkah kamu, benda apa yang bapak masukkan pertama kali ke dalam ember?”
Murid yang duduk paling depan spontan menjawab , “Batu!”
“Betul. Batu! Baru setelah itu menyusul kerikil, pasir dan air. Ehmm... bagaimana menurut pendapatmu, apabila yang Bapak masukkan terlebih dulu adalah kerikil, pasir dan air, baru kemudian batu?”
“Pastinya tidak semua batu bakal masuk ke ember, Pak!” Kali ini murid paling belakang yang menjawab.
“Tepat! Jika kerikil, pasir dan air yang Bapak masukan terlebih dahulu, maka pasti ada batu yang tertinggal di luar ember. Pelajaran yang bisa kamu petik dari “permainan” kita pagi ini adalah...” Kali ini Pak Guru benar-benar serius. “Ember adalah lambang umur kita yang terbatas. Siapapun kita, hidup di dunia hanya dalam rentang waktu tertentu. Ada saatnya waktu kita habis. Dan kita kembali kepada Sang Pencipta. Karena “ember” waktu hidup kita terbatas, maka pintar-pintarlah memilih benda yang akan dimasukkan ke dalamnya. Batu, kerikil, pasir dan air adalah skala prioritas amal dalam hidup kita. Katakanlah, batu besar adalah simbol amal penting atau karya yang memberi nilai pada kehidupan kita. Sedangkan kerikil, pasir dan air secara berturut-turut kita anggap amal yang kurang penting, tidak penting dan amal yang sia-sia.”
“Saya paham, Pak!” kata salah seorang murid. “Kalau kita sibuk menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang atau tidak bermanfaat bagi hidup kita, maka kita akan kehabisan waktu dan kesempatan untuk melakukan amal-amal atau karya yang bermanfaat.”
“Benar, akibatnya banyak hal yang positif yang sebenarnya biasa kita lakukan untuk meningkatkan “nilai dan kualitas diri’ kita, malah terlewatkan. Biasanya kita baru sadar, betapa banyak waktu terbuang sia-sia, manakala badan kita sudah terbaring sakit-sakitan, lumpuh kena stroke, atau ketika malaikat Izrail datang akan mencabut nyawa kita. Di saat-saat itulah biasanya kita, dengan penuh penyesalan merintih ...ah andai saja dulu aku begini-begini ..! Na’udzubillah!”
“Makanya, sejak empat belas abad yang lalu, Allah Swt mengingatkan kita tentang ruginya orang yang menyia-nyiakan waktu. Yang beruntung dan sukses hanyalah mereka yang beriman, yang mengisi detik demi detik hidupnya dengan amal soleh, saling mengingatkan perihal kebenaran, dan saling mengingatkan dengan penuh kesabaran.
“Jadi, mulai sekarang pintar-pintarlah memilih apa yang akan kalian masukkan ke dalam “ember-waktu” hidup kalian. Supaya tidak salah memilih, Allah sudah membekali kita akal dan kalbu. Diberinya pula kita tuntunan wahyu. Kurang apa lagi, coba? Hanya orang jahil dan zalim saja yang sibuk memasukkan kerikil, pasir dan air, dan membiarkan batu-batu besarnya tergeletak di luar.” []